Eksotisme Little Netherland

Sebuah sejarah tidak akan lepas dari peninggalan-peninggalan yang kita lihat. Hal ini juga terjadi di Semarang. Sebuah ibukota provinsi yang tak lepas dari sejarah keberadaan Belanda (VOC) sebagai salah satu kota dengan potensi yang sangat diunggulkan dari beberapa aspek, seperti perdagangan dan pertahanan.
Beberapa peninggalan yang menjadi saksi sejarah kota Semarang dapat kita temukan di Kawasan Kota Lama (Outstad Van Semarang) atau yang memiliki nama beken ’Little Netherland’.

Terdapat banyak sekali hal yang menjadi daya tarik dari kawasan ini. Dari perjalanan yang saya lakukan bersama salah satu sahabat karib saya (Mahayu), kami melihat gedung-gedung tua yang dibangun pada masa kolonial Belanda dan masih kokoh berdiri hingga sekarang. Ada bangunan yang masih digunakan sebagai gedung perniagaan, restaurant dan gedung-gedung perkantoran lainnya.

Namun tidak semua bangunan di sana masa dipertahankan eksistensinya. Banyak juga gedung-gedung yang tidak terawat dengan baik sehingga terkesan kumuh, terutama gedung atau bangunan yang berada di gang-gang sempit Kota Lama.

Beberapa bangunan yang masih eksis di antaranya adalah:

1. Stasiun Kereta Api Tawang
Stasiun Semarang Tawang adalah stasiun induk di Kota Semarang yang melayani kereta api eksekutif dan bisnis. Kereta api ekonomi tidak singgah di stasiun ini. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api besar tertua di Indonesia setelah Semarang Gudang dan diresmikan pada tanggal 19 Juli 1868.

Stasiun ini merupakan salah satu sarana transportasi paling mudah untuk mengunjungi Kota Lama. Kita dapat naik kereta api Banyu Biru maupun Pandanwangi apabila kita berangkat dari kota Solo. Dan begitu kita turun dari kereta, maka eksotisme Kota Lama dapat langsung kita nikmati begitu kita keluar dari stasiun. Karena stasiun Tawang sendiri merupakan bagian dari Kota Lama yang dibangun oleh seorang arsitek bernama JP DE BORDES.

2. Polder Tawang

Dinamakan Polder Tawang karena letaknya yang berada persis di depan stasiun Tawang. Fungsi dari polder sendiri adalah sebagai kolam penampung air limpahan dari luar. Selain untuk menampung air hujan, Semarang sendiri juga terkenal sering terjadi banjir yang berasal dari luapan air laut. Polder Tawang juga ditata sedemikian rupa sehingga menjadikannya sebagai alternatif wisata selain Simpang Lima.

3. Kantor Gabungan Batik Koperasi Indonesia

Terletak di Jalan Mpu Tantular 29. Berdiri pada tahun 1930-an. Gedung ini didirikan untuk Koperasi Pengusaha Batik, mengingat pada jaman dahulu batik juga telah diekspor ke luar negeri. Tanggal 4 Mei 1897 diresmikan sejak awal Gabungan Pengusaha Batik berdiri di Indonesia.

4. Gereja Blenduk

Disebut demikian mungkin karena Gereja blenduk memiliki kubah. Kubah ini juga dapat digunakan sebagai penunjuk bangunan, karena paling tinggi di antara bangunan-bangunan di sekitarnya. Bangunan yang berbentuk segi delapan (heksagonal) ini memiliki empat buah pintu untuk sirkulasinya. Pintunya terdiri dari dua daun pintu yang terbuat dari kayu dengan ambang atas berbentuk lengkung. Gereja ini masih aktif digunakan untuk beribadah umat Kristen Protestan. Sesungguhnya gereja ini bernama GPIB Immanuel. Lokasi berada di Jl. Letjen. Suprapto 32 Semarang. Dibangun oleh arsitek yang bernama HPA DE WILDE dan WWESTMAS. Dulunya Gereja ini bernama Gereja Protestan (NEDERLANDSCHE INDISCHE KERK). Gereja ini dibangun pada tahun 1753 dan direnovasi pada tahun 1756, 1787, 1794 dan terakhir 1894 dan masih berdiri kokoh hingga sekarang.

5. Ordo Fransiskan

Terletak di Jl. Ronggowarsito no. 8.Yayasan ini adalah milik katholik. Semula pada tahun 1808 Pastur LAMBERTS PRINSEN memprakarsai pendirian rumah yatim piatu Katholik untuk putra diberi nama WEESHUIS. Pada tahun 1870 datang sekelompok suster dari Ordo FRANSISKAN ke Semarang. Lalu seorang arsitek bangsa Belanda M. NIESTMAN Merancang bangunan di lokasi tersebut untuk susteran. Mulai digunakan sebagai susteran pada tanggal 16 Pebruari 1906.

Pada tanggal 15 Juni 1915 Asrama untuk anak-anak putra pindah ke lokasi baru yaitu di Jl. Dr.Wahidin saat ini, sedangkan lokasi tersebut digunakan khusus untuk susteran. Penggunaan tanah ini untuk Kapel Susteran, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar dan Balai Pengobatan. Komplek ini memanjang dari Jl. R. Patah sampai Jl. StaSIUN Tawang. Sebelum kemerdekaan bangunan ini pernah digunakan untuk markas tentara GURKHA.

6. Jembatan Berok

Jembatan ini merupakan penghubung utama antara jalan Pemuda dan Jalan Mpu Tantular, dibangun tahun 1705. Pada waktu itu, dilokasi Kota Lama dibangun benteng berbentuk segi lima, dinamai Benteng VIJHOEK, salah satu pintu gerbang benteng ini adalah Jembatan Berok yang waktu itu bernama DEZUIDER PORT. Kemudian nama Jembatan ini berubah menjadi GOUVERNEMENTSBRUG. Nama ini didapat karena lokasinya berdekatan kantor Balai Kota, yang berlokasi di Gedung KeuanganGEDUNG PAPAK saat ini. Beberapa tahun kemudian, jembatan ini berganti nama dengan SOCIETEITSBRUG. Hal ini terjadi karena didekat jembatan tersebut berdiri Gedung Kesenian SOCIETEIT DE HARMONIE. Tahun 1824 dengan dibongkarnya dinding benteng VIJHOEK, jembatan ini mempunyai arti yang penting. Tahun 1910 jembatan ini diperbaiki dengan diberi lampu penerangan.Perbaikan besar terakhir dilaksanakan pada tahun 1980. Dinamai jembatan “BEROK” karena orang pribumi tidak bisa melavalkan kata “BURG” yang dalam bahasa Belanda berati jembatan.

7. PT PELNI

Terletak di Jalan Mpu Tantular 27 dibangun pada awal abad XX. Semula bangunan ini ditempati oleh NV BOUWMAATSCHAPIJ. Yaitu perusahaan yang bergerak di bidang Ekpedisi Muatan Kapal Laut. Gedung ini berada di tepi sungai, karena pada waktu itu sungai tersebut dapat dilayari kapal dengan ukuran yang besar, sehingga kapal dapat merapat dan melakukan bongkar muat didepan kantor.

8. Jiwasraya

Terletak di Jl. Let. Jend. Suprapto 23 – 25. Dibangun pada tahun 1920. Arsitek pembangunan gedung ini adalah HERMAN THOMAS KARSTEN. Seperti pada bangunan – bangunan rancangannya, gedung ini dirancang sesuai dengan iklim tropis. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai, sampai saat ini digunakan untuk bangunan perkantoran.

9. Marba

Dibangun pada pertengahan abad XIX, terletak di Jl. Let.Jend. Suprapto no.33 yang waktu itu bernama DEHEEREN STRAAT. Merupakan bangunan 2 lantai dengan tebal dinding kurang lebih 20 cm. Bangunan ini berdiri sekitar pertengahan abad XIX. Pembangunan ini diprakarsai oleh MARTA BADJUNET, seorang warga negara Yaman, merupakan seorang saudagar kaya pada jaman itu. Untuk mengenang jasanya bangunan itu dinamai singkatan namanya MARBA. Gedung ini awalnya digunakan sebagai kantor usaha pelayaran, Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL). Saat ini bangunan ini tidak ada aktivitasnya dan digunakan untuk gudang.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: