Autobiography

Namaku Ratna Eta Karina. Aku lahir pada tanggal 8 Desember 1989 pukul 02.00 wib. Aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Sebagai anak terakhir, entah kenapa aku merasa mendapat perhatian yang paling lebih dibanding dua saudaraku yang lainnya Agatha Ratna Nova Andana dan Oliva Ratna Vega Sumirat. Ayahku bernama Demetrius Rubiyanto Hadi Pramono. Ayahku dulu bekerja di ATMI (Akademi Tehnik Mesin Industri) Surakarta sebagai seorang guru yang juga merangkap kepala bengkel. Ibuku, Yosephine Winarti adalah seorang ibu rumah tangga yang baik, yang sangat aku sayangi dan yang selalu mendengarkan cerita-ceritaku.
Ketika aku berumur beberapa bulan (aku tidak ingat, yang jelas aku masih menjadi bayi yang imut dan menggemaskan seperti yang kulihat di foto), aku dibaptis oleh Romo Kasud di gereja Santo Paulus Kleco dan aku diberi nama baptis Monica.
Selang beberapa bulan kemudian, ketika aku berumur setahun lebih, ayahku pergi ke Switzerland. Sebuah negara kecil di Eropa. Ayahku pergi selama kurang lebih satu tahun untuk belajar karena Ayah memperoleh beasiswa. Betapa bangganya aku karena memiliki ayah yang hebat!
Tahun 1991, Ayahku pulang. Tapi tahun 1994 ayahku pergi untuk kedua kalinya ke Switzerland. Kepergian Ayah saat itu lebih meninggalkan rasa rindu. Mungkin karena saat itu aku sudah lebih besar. Sudah lebih mengerti arti keluarga.
Kata Ibu, setiap kali teringat Ayah, aku selalu melampiaskan dengan makan, makan dan makan. Hahaha, inilah yang menyebabkan tubuhku menjadi tambun. Dan aku tidak berhasil melangsingkan tubuhku hingga dewasa.
Setahun kemudian, ketika aku berusia 5 tahun, Ayah kembali dengan membawa banyak sekali buah tangan. Aku sangat menantikan kepulangan Ayah. Tapi heran, ketika pertama kali melihat Ayah di bandara, aku langsung lari. Aku takut melihat Ayah yang berambut gondrong. Hahaha.
Di usia 5 tahun pula aku mulai memasuki dunia pendidikan. Aku bersekolah di TK Sandhy Putra. Karena usiaku yang sudah menginjak 5 tahun, maka aku langsung ditempatkan di TK besar. Hanya satu tahun aku bersekolah di sana. Tapi tidak banyak kenangan manis yang aku ingat. Malah terlalu banyak kenangan buruk. Aku sering diganggu teman-teman TK yang usil dan selalu menghina tubuhku yang gendut. Tapi aku punya seorang sahabat yang selalu menemaniku, namanya Deby. Entah ada di mana dia sekarang.
Tahun 1996, aku lulus dari TK dan masuk ke SD Pangudi Luhur II Surakarta. Jujur, 6 tahun di SD aku punya prestasi yang sangat amat buruk. Aku selalu berada di peringkat terakhir. Bahkan ketika aku kelas 5 SD, wali kelasku pernah mengatakan pada ibu jika aku tidak ada peningkatan maka suatu saat aku bisa tidak naik kelas.
Dan ucapan wali kelasku terjadi! Meskipun aku bisa lolos melalui 6 tahun di SD, tapi aku tidak berhasil melalui tahun pertamaku di SMP. Tahun 2003, ketika aku kelas 1 SMP, aku tidak naik.
Saat itu kondisi ekonomi keluargaku sedang buruk. Ayah mengundurkan diri dari ATMI tahun 2001 dan bekerja di sebuah perusahaan swasta karena iming-iming jabatan sebagai manager dan mendapatkan mobil mewah. Tapi sayang, karena ada masalah ketidak cocokan antara ayah dan teman sejawatnya, baru setahun bekerja Ayah terkena PHK.
Kondisi Ayah sangat labil saat itu. Penuh dendam dan selalu marah-marah. Penghasilan pun hanya diperoleh dari hasil penjualan koran dan wartel yang dikerjakan ibu. Sementara, kebutuhan keluarga makin lama makin banyak. Apalagi biaya sekolahku yang amat sangat mahal karena aku bersekolah di sekolah swasta yang memang dikenal elite.
Aku tidak mau menyalahkan siapa-siapa atas kegagalan yang aku terima. Ini semua adalah kesalahanku sendiri. Sudah wajar bila perhatian orang tuaku mulai berkurang karena sibuk mencari uang untuk mempertahankan hidup kami. Tapi aku sendiri malah menyusahkan orang tua. Menambah beban orang tua.
Aku pun mengulang di sekolah yang sama. Masih di SMP Pangudi Luhur Bintang Laut Surakarta. Dan terus berusaha untuk memperbaiki prestasi. Meskipun tidak menjadi yang terbaik, tapi aku bangga karena aku cukup ada peningkatan. Kondisi Ayah juga lebih baik. Ayah mulai membuka bengkel kecil-kecilan. Segala pekerjaan yang berhubungan dengan tehnik, Ayah kerjakan demi memperoleh uang.
Kehidupanku di kelas yang baru justru membuatku semakin bahagia. Entah mengapa aku merasa lebih cocok dengan teman-teman baru yang seharusnya menjadi adik-adik kelasku itu. Mereka lebih menghargaiku. Mungkin karena usiaku juga lebih tua. Aku senang berteman selama 3 tahun bersama mereka. Karena sebelumnya aku tidak pernah merasakan bahagia. Aku selalu merasa tidak punya kawan. Aku minder karena kondisi fisikku. Karena ekonomi keluargaku. Dan juga karena rasku. Aku orang Jawa yang berada di tengah orang-orang Chinese dan aku tidak bisa membaur dengan mereka, terutama mereka yang anak orang kaya.
Tahun 2005 orang tuaku mulai dekat lagi dengan Tuhan. Meskipun mereka sudah tidak lagi mengikuti gereja Katolik, karena mereka tersentuh oleh ajaran Kristen. Aku senang karena mereka sudah kembali ke jalan yang benar. Meskipun aku belum bisa mengikuti mereka, karena aku masih ingin setia kepada Katolik. Agama yang sudah aku kenal sejak kecil.
Tahun 2006 akhirnya aku tamat jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama. Aku puas dengan hasil ujianku dengan rata-rata 8.33. Aku puas karena itu adalah hasil kerja kerasku sendiri. Tanpa mencontek dan tanpa bocoran.
Sudah lama aku ingin masuk SMA Negeri 3. Tapi ternyata nilai yang aku pikir sempurna itu tidak mampu membawaku lolos dalam seleksi masuk SMA tersebut. Kudengar banyak yang mengatakan bahwa soal UAN bocor, sehingga banyak sekali yang nilainya jauh di atasku. Bahkan dengan nilai rata-rata 10.0 bulat.
Bisa jadi itu menjadi salah satu alasan kenapa aku tidak bisa lolos. Tapi aku berusaha mengambil hikmahnya saja. Mungkin bersekolah di sana bukanlah jalanku. Tuhan memberikan jalan yang lain untuk bersekolah di sekolah yang masih satu yayasan dengan SD dan SMPku. SMA Pangudi Luhur Santo Yosef Surakarta.
Tahun pertama di SMA aku jalani dengan cukup mulus. Meskipun aku lebih menyukai kawan-kawanku di SMP. Tapi aku senang karena aku selalu masuk peringkat sepuluh besar. Entah karena progress atau memang sainganku tidak seberat di SMP. Hahaha. Aku sangat bangga atas prestasiku, mengingat aku pernah gagal sebelumnya.
Tahun berikutnya aku naik ke jurusan IPA. Jurusan yang memang sangat aku inginkan untuk membuktikan bahwa aku hebat. Tapi justru kesombonganku itu membuat diriku sendiri jatuh untuk yang kedua kalinya. Tuhan tidak mengijinkanku menjadikan IPA sebagai alat untuk memamerkan kualitas. Aku diijinkan mengalami sakit yang cukup berat. Sakit yang dokter sendiri tidak tahu apa nama penyakitnya.
Semula aku divonis menderita tumor jinak. Tapi ternyata bukan tumor yang dokter temukan. Dokter menemukan sebuah gumpalan darah yang entah sejak kapan menggumpal di dalam tubuhku dan menimbulkan bengkak yang amat sangat menyakitkan. Dan aku langsung menjalani operasi. Aku tidak masuk sekolah selama berhari-hari dan ketinggalan pelajaran. Padahal prestasiku sendiri di IPA tidak terlalu bagus. Malah tergolong rendah. Akhirnya aku tidak naik kelas lagi untuk yang kedua kalinya!
Aku sangat shock mendengar keputusan itu. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya. Karena meski aku sempat ketinggalan pelajaran, aku masih bisa mengejar ketertinggalan itu. Meski nilai-nilaiku pas-pasan, aku selalu mencapai batas ketuntasan nilai.
Aku sangat marah. Aku sangat kecewa. Berkali-kali aku datang ke sekolah bersama orang tuaku untuk mencari penjelasan. Dan yang selalu aku dapatkan hanyalah satu kalimat: “Coba tanyakan ke guru yang berwenang!”.
Akupun mengumpulkan semua hasil-hasil ulanganku. Dan aku ingat, aku pernah mendapatkan kesalahan nilai di salah satu mata pelajaran yang membuat nilaiku menjadi tidak tuntas dan harus remidi. Tapi dulu aku pernah mengklarifikasi dan guru itupun mengatakan bahwa dia sudah mengganti nilaiku. Dan ketika aku mendatangi guru itu bersama orang tuaku, dia tidak mau memperlihatkan arsip nilai!!
Aku menjadi semakin marah! Ingin sekali aku meninggalkan sekolah itu dan menuntut tanggung jawab atas perbuatan guru yang sangat aku benci itu! Tapi Ayah tidak menginginkan aku seperti itu. Ayah meyakinkan bahwa pindah sekolah itu tidak mudah. Selain masalah adaptasi, biaya pun juga menjadi masalah yang berat. Lalu aku memutuskan untuk tetap di sekolah itu. Tapi aku sudah tidak mau berurusan dengan guru kimia, dan akupun memutuskan untuk mengulang di IPS.
Bulan-bulan pertama di IPS sungguh amat berat. Aku malu berhadapan dengan guru-guru dan teman-teman lain. Untunglah aku memiliki teman yang juga senasib denganku. Teman sekelasku ketika di IPA yang juga pindah ke IPS. Raden Rara Mahayu Kusuma Dewi, yang sekarang menjadi sahabat terbaikku.
Setiap malam aku selalu menangis di pelukan ibuku. Aku sangat berterima kasih kepada kedua orangtuaku, karena mereka tetap memberikan dukungan meski aku sudah mengecewakan mereka. Aku bersumpah, suatu saat aku akan membuat mereka bangga padaku.
Semester pertama dan kedua, kami (aku dan Mahayu) berhasil mencapai apa yang kami inginkan. Kami berhasil mencapai progress serta mendapatkan beasiswa dari sekolah. Aku senang membuat orang tuaku bangga. Mungkin jika aku dan Mahayu naik kelas, kami tidak akan merasakan menjadi siswa yang katanya berprestasi.
Dan kami terus berharap untuk bisa sukses ke depannya.

Explore posts in the same categories: Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: